Era digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam cara kita menjalankan kewajiban agama. Di Kota Palembang, yang dikenal dengan religiositas masyarakatnya yang tinggi, transisi menuju sistem yang lebih modern mulai terlihat di masjid-masjid bersejarah hingga musala di lingkungan perumahan. Namun, digitalisasi tidak selalu berjalan mulus tanpa hambatan teknis. Menyadari hal tersebut, sekelompok mahasiswa sistem informasi dan ekonomi syariah terjun langsung melakukan program zakat digital melalui skema pendampingan teknis kepada para pengurus masjid (Amil) untuk memastikan pengelolaan dana umat menjadi lebih transparan dan efisien.

Fokus utama dari kegiatan ini adalah memberikan pendampingan mahasiswa kepada para pengelola masjid agar mereka melek teknologi. Selama ini, banyak masjid di Palembang masih menggunakan pencatatan manual dalam buku besar yang rentan terhadap risiko kehilangan data atau kesalahan hitung. Dengan hadirnya sistem digital, setiap rupiah yang masuk dari muzaki (pemberi zakat) dapat tercatat secara real-time dan otomatis. Mahasiswa membantu mengintegrasikan sistem pembayaran menggunakan kode QR (QRIS) serta aplikasi manajemen keuangan sederhana yang mudah dioperasikan oleh para pengurus masjid yang mungkin sudah lanjut usia.

Kota Palembang sebagai pusat aktivitas ekonomi di Sumatera Selatan memiliki potensi zakat, infak, dan sedekah yang sangat besar. Dengan sistem digital, akses masyarakat untuk membayar zakat menjadi jauh lebih luas. Warga tidak perlu lagi datang secara fisik ke masjid jika memiliki keterbatasan waktu, cukup melalui ponsel pintar dari rumah. Namun, mahasiswa menekankan bahwa digitalisasi ini hanyalah alat; esensi dari zakat tetaplah niat dan penyaluran yang tepat sasaran. Inisiatif mahasiswa ini bertujuan untuk membangun kepercayaan publik (trust) bahwa dana yang mereka titipkan dikelola dengan standar akuntansi yang baik.

Selama proses pendampingan, mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai keamanan siber tingkat dasar. Hal ini penting agar dana yang terkumpul secara digital tetap aman dari tangan-tangan jahat yang tidak bertanggung jawab. Para Amil diajarkan cara memverifikasi bukti transfer dan mengelola basis data mustahik (penerima zakat) agar distribusi bantuan tidak tumpang tindih. Inovasi untuk masjid ini diharapkan dapat memangkas birokrasi penyaluran bantuan, sehingga warga yang benar-benar membutuhkan di sekitar masjid dapat menerima manfaatnya secara lebih cepat, terutama menjelang perayaan Idulfitri.

Kategori: Berita