Bagi seorang atlet mahasiswa di Palembang, jadwal harian sering kali terasa seperti perlombaan melawan waktu. Bangun sebelum subuh untuk sesi kolam, dilanjutkan dengan perkuliahan hingga sore, dan kembali berlatih di malam hari adalah rutinitas yang dianggap biasa. Namun, banyak atlet yang melaporkan fenomena aneh: meskipun tubuh terasa sangat lelah, mereka justru mengalami kondisi susah tidur karena latihan yang intens. Alih-alih terlelap dengan cepat, pikiran mereka tetap waspada dan detak jantung terasa lebih cepat saat berbaring di tempat tidur. Bapomi Palembang melihat hal ini sebagai hambatan besar bagi proses pemulihan fisik dan mental atlet.
Kondisi sulit tidur pasca-latihan berat biasanya disebabkan oleh lonjakan hormon adrenalin dan kortisol yang belum kembali ke level normal. Saat seorang perenang melakukan sprint atau latihan beban dengan intensitas tinggi di malam hari, sistem saraf simpatik berada dalam kondisi siaga penuh. Jika sesi latihan berakhir terlalu dekat dengan waktu tidur, tubuh tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan fase pendinginan internal. Akibatnya, suhu inti tubuh tetap tinggi, padahal penurunan suhu tubuh adalah salah satu sinyal alami yang diperlukan otak untuk memicu rasa kantuk.
Dampak Kurang Istirahat bagi Performa Atlet
Kurangnya waktu tidur yang berkualitas memiliki dampak berantai pada performa atlet mahasiswa. Tidur adalah waktu utama bagi tubuh untuk memproduksi hormon pertumbuhan yang berfungsi memperbaiki jaringan otot yang rusak selama latihan. Jika atlet terus mengalami susah tidur, maka proses pemulihan akan terhambat, yang pada akhirnya memicu kelelahan kronis dan penurunan daya tahan tubuh. Di Palembang, di mana persaingan antar universitas cukup ketat, atlet yang tidak cukup istirahat akan kehilangan ketajaman fokus dan kecepatan reaksi di atas blok start.
Selain dampak fisik, kurang tidur juga memengaruhi stabilitas emosional dan kemampuan kognitif. Mahasiswa akan sulit menyerap materi kuliah di pagi hari, yang kemudian memicu stres akademik. Stres ini kembali meningkatkan kadar kortisol, menciptakan siklus setan yang membuat kondisi insomnia semakin parah. Solusi Bapomi Palembang dalam hal ini bukan sekadar menyarankan penggunaan obat tidur, melainkan memperbaiki higienitas tidur (sleep hygiene) dan manajemen beban latihan secara menyeluruh.