Banyak teori psikologi olahraga menyarankan agar atlet berlatih di lingkungan yang tenang dan kondusif untuk mencapai tingkat konsentrasi maksimal. Namun, para atlet mahasiswa di Palembang justru menunjukkan fenomena yang sebaliknya. Mereka terbiasa berlatih di tengah hiruk pikuk kota, suara mesin LRT, hingga kebisingan suara klakson kendaraan yang berlalu-lalang di sekitar kompleks olahraga Jakabaring maupun area latihan lainnya. Ternyata, paparan terhadap polusi suara yang konstan ini tidak membuat fokus mereka buyar, melainkan justru menempa kemampuan otak mereka untuk melakukan filtrasi informasi sensorik secara luar biasa tajam.
Secara neurologis, manusia memiliki kemampuan yang disebut sebagai “auditory gating”, yaitu kemampuan otak untuk menyaring rangsangan suara yang tidak relevan agar fokus tetap tertuju pada tugas utama. Mahasiswa di Palembang yang sering terpapar kebisingan kota secara tidak langsung telah melatih sirkuit saraf mereka untuk mengabaikan gangguan eksternal. Di tengah suara klakson yang memekakkan telinga, seorang pemanah atau penembak dari Palembang mampu masuk ke dalam kondisi flow di mana mereka hanya mendengar suara napas mereka sendiri dan fokus pada sasaran. Mereka telah belajar untuk menjadikan suara bising sebagai “latar belakang putih” (white noise) yang justru membantu mereka mengunci konsentrasi.
Tantangan dari kebisingan ini juga memberikan keuntungan besar saat mereka bertanding di arena internasional atau nasional yang dipenuhi oleh ribuan penonton. Banyak atlet dari daerah yang terbiasa berlatih dalam kesunyian sering kali mengalami “shaking” atau kegugupan luar biasa saat mendengar sorakan penonton yang masif. Sebaliknya, atlet Palembang merasa suasana stadion yang ramai adalah hal yang biasa. Bagi mereka, suara penonton hanyalah bentuk lain dari kebisingan jalanan yang sudah mereka hadapi setiap hari. Kesiapan mental terhadap gangguan suara inilah yang membuat mereka memiliki ketenangan yang lebih stabil dibandingkan lawan-lawannya.
Selain faktor filtrasi suara, berlatih di tengah kebisingan juga menuntut efisiensi komunikasi tim. Dalam cabang olahraga beregu seperti sepak bola atau basket, mahasiswa Palembang belajar untuk berkomunikasi menggunakan bahasa tubuh dan kontak mata yang lebih intens karena suara instruksi verbal sering kali tertutup oleh suara kendaraan. Hal ini secara tidak sadar membangun pemahaman taktis yang lebih dalam antar pemain. Mereka tidak perlu banyak bicara untuk saling mengerti posisi dan arah pergerakan rekan setim. Kemampuan membaca isyarat non-verbal ini menjadi senjata rahasia yang sangat efektif saat mereka bertanding di lapangan yang sangat berisik.