Penyelenggaraan Forum BAPOMI Palembang ini menjadi wadah untuk mengevaluasi peta kekuatan atlet mahasiswa di Palembang secara menyeluruh. Selama ini, banyak universitas yang cenderung menutup diri dalam pola pembinaan, padahal potensi untuk saling melengkapi sangat besar. BAPOMI Palembang mendorong agar pimpinan cabor mulai berbagi data mengenai atlet potensial yang mereka miliki. Dengan keterbukaan informasi ini, Palembang dapat menyusun “tim impian” yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswa terbaik lintas kampus untuk mewakili kota dalam ajang regional maupun nasional. Transparansi data adalah kunci untuk meminimalisir subjektivitas dalam proses seleksi atlet kontingen.

Upaya membangun Sinergi juga menyentuh aspek penggunaan fasilitas olahraga di masing-masing universitas. Tidak semua kampus memiliki fasilitas yang lengkap untuk setiap cabang olahraga. Melalui forum ini, disepakati adanya nota kesepahaman yang memungkinkan atlet dari kampus berbeda untuk berlatih di fasilitas milik kampus mitra jika fasilitas di kampus asalnya tidak memadai. Kerjasama semacam ini akan menekan biaya operasional pembinaan secara signifikan dan memastikan tidak ada peralatan olahraga yang terbengkalai karena jarang digunakan. Semangat gotong royong antar-akademisi inilah yang menjadi kekuatan baru bagi BAPOMI Palembang.

Peran dari para Pimpinan cabor sangat krusial dalam menyelaraskan program latihan dengan kalender akademik yang berbeda-beda di setiap institusi. Dalam diskusi tersebut, muncul gagasan untuk menciptakan sistem kredit prestasi yang diakui oleh seluruh perguruan tinggi di Palembang. Jadi, mahasiswa yang menghabiskan waktu berjam-jam di lapangan untuk membela nama daerah mendapatkan kompensasi akademik yang setimpal. Hal ini membutuhkan komitmen moral dari pimpinan kampus untuk melihat olahraga bukan sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari pengembangan karakter mahasiswa yang unggul secara fisik dan mental.

Fokus pembinaan pada setiap Cabor unggulan seperti renang, dayung, dan atletik mendapatkan perhatian khusus mengingat fasilitas pendukung di Jakabaring sangat memadai. BAPOMI Palembang ingin memastikan bahwa mahasiswa lokal adalah tuan rumah di tanahnya sendiri. Jangan sampai fasilitas internasional yang ada di Palembang justru lebih banyak dimanfaatkan oleh atlet dari luar daerah sementara mahasiswa Palembang hanya menjadi penonton. Strategi “jemput bola” dilakukan dengan aktif mengadakan kompetisi antar-kampus secara rutin untuk menguji hasil latihan dan mental bertanding para atlet muda di arena yang sesungguhnya.

Kategori: Berita