Semangat persaudaraan antarprovinsi di Pulau Sumatera kembali diperlihatkan oleh masyarakat Kota Selatan. Melalui slogan Wong Kito Galo Peduli, para mahasiswa di Kota Palembang yang tergabung dalam Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI) menunjukkan empati yang luar biasa terhadap musibah yang menimpa saudara-saudara di Serambi Mekkah. Jarak ribuan kilometer yang memisahkan Sumatera Selatan dan Aceh tidak menjadi penghalang bagi para intelektual muda ini untuk bergerak serentak. Mereka meyakini bahwa penderitaan yang dirasakan oleh warga Aceh akibat bencana adalah duka yang juga dirasakan oleh seluruh masyarakat Palembang.

Langkah nyata yang diambil oleh BAPOMI Palembang adalah dengan mengorganisir sebuah gerakan kemanusiaan berskala luas di lingkungan kampus dan ruang publik. Mahasiswa menyadari bahwa untuk memberikan dampak yang signifikan, diperlukan koordinasi yang matang dan pengumpulan sumber daya yang maksimal. Oleh karena itu, mereka membentuk satuan tugas khusus yang bertanggung jawab untuk menjaring dukungan dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kalangan akademisi, pengusaha lokal, hingga masyarakat umum di pasar-pasar tradisional dan pusat keramaian Kota Palembang.

Kegiatan utama dalam aksi ini adalah untuk galang donasi yang dilakukan secara berkelanjutan selama masa tanggap darurat. Mahasiswa turun ke jalan-jalan protokol dengan membawa kotak bantuan, serta menyediakan kanal donasi digital untuk memudahkan masyarakat yang ingin berkontribusi namun terkendala jarak. Transparansi menjadi pilar utama dalam gerakan ini, di mana setiap dana yang terkumpul dicatat secara mendalam dan dilaporkan secara berkala melalui media sosial organisasi. Hal ini dilakukan untuk menjaga integritas mahasiswa dan memastikan kepercayaan publik terhadap gerakan “Wong Kito Galo” tetap terjaga dengan baik.

Target utama dari pengumpulan bantuan ini adalah untuk membantu proses pemulihan di wilayah Aceh yang sedang berjuang bangkit dari dampak bencana alam. Dana yang terkumpul dikonversikan menjadi bantuan logistik mendesak seperti paket pangan bergizi, obat-obatan, dan kebutuhan khusus untuk balita serta lansia. Mahasiswa Palembang bekerja sama dengan jaringan relawan di Aceh untuk memastikan bahwa bantuan yang dikirimkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan, sehingga tidak terjadi penumpukan barang yang kurang bermanfaat bagi para korban di pengungsian.

Kategori: Berita